12.12.08

an angel

Seorang anak muda pergi ke sebuah tempat Pemahaman Alkitab (PA) yang diadakan pada setiap hari Rabu. Di sana sang Pendeta membawakan tema mengenai mendengarkan Tuhan dan setia dalam mentaati perintah-Nya. Si anak muda, sambil menyimak kemudian bertanya-tanya di dalam hatinya "Apakah Tuhan masih berbicara kepada kita?". Setelah kelas PA selesai, dia pergi bersama dengan beberapa temannya ke sebuah kedai kopi untuk mendiskusikan kata-kata Pendeta tadi sambil makan kue dan secangkir kopi sebelum pulang ke rumah masing-masing. Setelah hampir jam 10 malam, mereka keluar dari kedai tersebut untuk pulang ke rumah masing-masing.

Sang anak muda pun mengendarai mobilnya pulang. Di dalam mobil dia berdoa "Tuhan, kalau Engkau masih suka berbicara kepada kami, berbicaralah kepadaku, aku akan mendengar, aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk mentaatinya". Selama perjalanan pulang, dia mendadak mempunyai ide yang aneh untuk membeli satu galon susu. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata "Tuhan, Engkaukah itu?".

Tetapi dia tidak mendengar jawaban apapun dan dia tetap berjalan pulang. Akan tetapi keinginan untuk membeli satu galon susu tersebut terus ada di kepalanya. Kemudian si anak muda ini berpikir mengenai Samuel yang tidak mengenali suara Tuhan dan bagaimana Samuel berlari ketakutan menghampiri Eli.

"Baik Tuhan, kalau ini Engkau, aku akan membeli susu tersebut", pikirnya ini bukan merupakan hal yang sulit untuk suatu tes ketaatan dan susu ini masih bisa dipakai untuk hal lain. Dia kemudian berhenti, membeli satu galon susu dan kembali menyetir menuju rumah. Pada saat melewati sebuah perempatan yang menuju ke Seventh Street, dia merasa bahwa dia harus berbelok ke jalan tersebut. "Tidak mungkin" pikirnya dan dia terus menyetir melewati perempatan tersebut. Akan tetapi, kembali pikiran itu ada di kepalanya dan dia merasa bahwa dia harus berputar arah untuk kembali ke Seventh Street. Akhirnya pada perempatan berikutnya, dia memutar mobilnya dan menuju Seventh Street.

Setengah bercanda dia berteriak "Baik Tuhan, aku taat". Dia berjalan beberapa saat sebelum dia merasa bahwa dia harus berhenti. Dia berhenti dan memperhatikan sekelilingnya. Dia berada di suatu daerah pertokoan yang agak lumayan, tidak kumuh tapi juga bukan daerah yang mahal. Sudah tidak ada kegiatan sama sekali dan semua rumah di sana sudah gelap yang sepertinya semua orang sudah berada di tempat tidur. Kembali dia merasakan sesuatu di dalam hatinya "Pergi dan berikan susu ini ke rumah yang ada di seberang jalan".

Si anak muda melihat ke rumah tersebut. Rumah tersebut sudah gelap dan tampaknya si pemilik rumah sedang pergi atau sudah tidur. Dia kembali duduk di mobilnya dan berkata "Tuhan, ini kelewatan, orang di dalam rumah tersebut sedang tidur dan kalau aku membangunkan mereka, mereka pasti marah dan aku akan terlihat seperti orang bodoh".

Akan tetapi kembali dia merasa bahwa dia harus memberikan susu ini. Akhirnya dia membuka pintu mobilnya "Baik Tuhan, apabila ini Engkau, aku akan pergi ke rumah itu dan memberikan susu ini kepada mereka. Apabila Engkau memang ingin melihat aku seperti orang bodoh, tidak apa-apa, aku ingin menjadi orang yang taat. Pasti hal ini akan ada manfaatnya, akan tetapi jika aku mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, aku akan pergi dari sini".

Dia membuka pintu mobilnya dan menekan bel di depan pintu. Dia mendengar ada ribut-ribut di dalam rumah dan ada teriakan laki-laki "Siapa di situ? Apa maumu?". Kemudian pintu terbuka sebelum si anak muda tersebut dapat pergi menghindar. Lelaki tersebut berdiri dengan celana jeans dan kaos oblong, sepertinya dia baru bangun dari tempat tidur. Dia tampak tidak senang melihat orang asing di depan pintu rumahnya. Si anak muda memberikan susu tersebut, "Ini saya membawa susu".

Laki-laki tersebut segera mengambil susu tersebut dan sambil membawa susu tersebut ke dalam rumah dia berteriak dalam bahasa Spanyol. Kemudian seorang wanita menghampiri dan membawa susu tersebut ke dapur. Laki-laki tersebut mengikutinya sambil menggendong seorang bayi. Bayi tersebut sedang menangis. Air mata mengalir di muka lelaki tersebut. Lelaki tersebut berkata sambil setengah menangis "Kami baru saja berdoa. Kami banyak tagihan dan kami sudah tidak punya uang lagi bahkan tidak ada uang untuk membeli susu untuk bayi kami. Kami meminta Tuhan untuk menunjukkan bagaimana caranya kami dapat mendapatkan susu untuk bayi kami".

Istrinya kemudian berteriak "Kami meminta Tuhan untuk mengirimkan malaikat dengan membawa ........, hei apakah kamu seorang malaikat?"

Anak muda tersebut kemudian mengambil dompetnya dan memberikan semua uangnya ke tangan lelaki tersebut. Dia berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya dan air matanya mengalir membasahi pipinya. Dia yakin sekarang kalau Tuhan masih menjawab doa.

Jangan mempertanyakan kesetiaan Tuhan, pertanyakanlah kesetiaan diri kita sendiri dalam mengikut Tuhan. Sudahkah kita setia mulai dari hal-hal kecil?

11.12.08

love letter

Ibu tercinta,

Kami masih berada di Betlehem – aku, Maria dan si kecil Yesus. Ada banyak hal yang tidak bisa kukatakan kepada ibu tentang musim panas lalu. Ibu mungkin tidak akan percaya padaku, tetapi mungkin aku bisa mengatakannya sekarang. Aku harap Ibu bisa mengerti.

Ibu, aku sangat mencintai Maria. Ibu dan Ayah dulu sering menggodaku dengannya ketika ia masih kecil. Ia dan kakaknya dulu sering bermain di jalan depan rumah kita. keluarga kita sering makan bersama. Tetapi hari terberat dalam hidupku datang hampir setahun yang lalu ketika aku berumur 20 tahun dan ia hanya 15 tahun. Ibu ingat kan?

Permasalahan dimulai ketika kami mulai bertunangan dan menandatangani persetujuan pernikahan di hari pertunangan kami. Pada saat yang sama tiba-tiba Maria pergi mengunjungi sepupunya Elizabeth di Yudea. Ia pergi selama 3 bulan. Setelah ia kembali, orang-orang mulai membicarakan tentangnya, bahwa ia hamil.

Hari itu hari yang menengangkan bagiku ketika pada akhirnya aku menemuinya dan bertanya mengenai gosip itu. “Maria,” tanyaku padanya, “Apakah benar bahwa kau sedang hamil?” Sepasang mata jernih berwarna coklat itu menatapku. Aku tak tahu harus berkata apa. “Siapa?” Tanyaku dengan kegugupan. Ibu, Maria dan aku tidak pernah berbuat hal-hal yang tidak baik – bahkan setelah kami bertunangan.

Maria menunduk. “Yusuf, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Kamu tidak akan bisa mengerti. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah menyayangi siapapun kecuali kamu.” Ia bangun, dengan lembut ia memegang kedua tanganku, dan menciumnya seakan-akan saat itu adalah saat terakhir ia melakukannya dan kemudian ia pulang ke rumah. Ia pasti sangat terpukul. Begitupun dengan aku.

Awalnya aku begitu marah dan menumpahkan frustasiku pada pintu kayu yang sedang kubuat. Pikiranku berputar dengan cepat, aku hampir tidak berpikir sedikitpun pada pekerjaanku. Akhirnya, aku memutuskan untuk menyudahi kontrak pernikahan dengan perceraian diam-diam. Aku terlalu mencintainya untuk memberitahukan pada publik.

Aku tidak bisa berbicara dengan ibu, atau siapapun, untuk masalah ini. perkataannya terus terngiang-ngiang di pikiranku. “Aku tidak pernah menyayangi siapapun kecuali engkau... “Aku ingin sekali mempercayainya!” dan ketika aku tertidur, aku bermimpi Malaikat Tuhan datang padaku. PerkataanNya masuk ke dalam pikiranku dan aku bisa mengingatnya dengan jelas sekali.

“Yusuf, anak Daud,” suaraNya yang menggelegar, “Jangan takut menjadikan Maria sebagai istrimu, karena apa yang terjadi padanya berasal dari Roh Kudus.” Aku tidak bisa mempercayai telingaku, Ibu. Inilah jawaban! Malaikat itu meneruskan, “Ia akan melahirkan seorang bayi laki-laki, dan kamu akan menamai Ia Yesus, karena Ia yang akan menyelamatkan manusia dari dosa.” Malaikat itu menggenggam bahuku dengan tangannya yang besar. Untuk waktu yang lama ia menatapku dengan dalam. Ketika ia pergi, aku melihatnnya tersenyum.

Aku duduk terdiam. Memikirkan berbagai kata dalam benakku, kemudian aku bangun segera berpakaian diam-diam supaya aku tidak membangunkan Ibu. Aku pasti telah melewati bermil-mil di bawah bulan di langit gelap dan taburan bintang-bintang, semburan angin mengusap wajahku.

Aku bernyanyi bagi Tuhan, Ibu, andaikan ibu bisa membayangkan. Aku tidak dapat menahan kebahagiaanku. Aku katakan padaNya aku akan menikahi Maria dan mengasihinya, aku akan menjaganya dan bayinya, tidak peduli apa yang dikatakan orang.

Ketika aku pulang, hari telah pagi. Aku tidak tahu apakah Ibu masih mengingat pagi itu. “Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Ibu.” Aku mengajak Ibu duduk di atas batu besar. “Ibu,” kataku, “Aku akan membawa Maria pulang sebagai istriku. Bisakah Ibu membantu menyiapkan tempat untuknya?”

Ibu terdiam beberapa saat. “Kamu tahu benar apa yang mereka bicarakan anakku?” “Ya, ibu, Aku tahu.” Suaramu mulai meninggi. “Kalau ayahmu masih hidup, ia pasti akan menentangnya. Melakukan hal seperti itu sebelum kalian menikah, mempermalukan keluarga. Kau.. kau.. dan Maria harusnya malu!”

Ibu tidak akan mempercayaiku walau aku mencoba menjelaskan, maka aku tidak mencoba menjelaskan apa-apa. Jika saja malaikat yang mengatakannya padamu, Ibu akan menertawakan aku. “Ibu, ini hal yang harus dilakukan,” kataku.

Kemudian aku mulai berkata padamu seakan-akan aku adalah kepala keluarga. “Ketika ia datang, aku tidak mau ada satu katapun kepadanya mengenai hal ini,” Aku menegaskan. “Ia adalah menantumu, Ibu harus menghargainya. Ia akan membutuhkan bantuan ketika harus menahan perkataan-perkataan pedas dari tetangga!”

Maafkan aku. Ibu tidak seharusnya mengalami hal ini. “Ibu,” aku mulai merengek, “Aku membutuhkanmu.” Ibu mengambil tanganku menyentuh kakimu, tetapi api kemarahanmu telah padam. “Kau bisa mengandalkanku, Yusuf,” Ibu mengatakannya dengan pelukan yang hangat. Ibu sungguh-sungguh dengan ucapan itu. Tidak ada pengantin yang bisa mengharapkan ibu mertua yang lebih baik darimu.

Ibu, setelah aku meninggalkan rumah, aku pergi ke rumah Maria. Ibunya melihatku dengan sangat terkejut, dengan segera ibunya berteriak, “Ini Yusuf!” Si kecil Maria datang dengan menunduk, matanya kemerahan dan bengkak. Aku bisa membayangkan apa yang telah dikatakan oleh orang tuanya. Ia terlihat begitu muda dan takut. “Kemasi barang-barangmu, Maria,” kataku padanya dengan lembut. “Aku akan membawamu pulang untuk menjadi istriku.” “Yusuf!” ia memelukku dengan sekuat tenaganya. Ibu, aku tidak menyadari bahwa dia bagitu kuat.

Aku memberi tahunya rencanaku. “Kita akan pergi ke rumah Rabbi Ben-Ezer minggu ini dan meminta bantuannya untuk menyelenggarakan upacara perkawinan.” Aku tahu ini sangat tiba-tiba, Ibu, tetapi menurutku semakin cepat semakin baik. “Maria, walaupun teman-teman kita tidak menghadirinya, setidaknya kau dan aku menyatukan cinta di hadapan Tuhan. Menurutku ibuku akan hadir. Dan mungkin temanmu Rebeka akan datang jika ayahnya mengijinkan. Bagaimana dengan orang tuamu?” Aku bisa merasakan kelemahan Maria ketika ia mulai menangis.

“Maria, tidak peduli apa yang dikatakan orang tentangmu, aku bangga kamu akan menjadi istriku. Aku akan menjagamu dengan sangat baik. Aku telah berjanji pada Tuhan.” Ia menatapku. Aku merendahkan suaraku. “Aku bermimpi semalam, Maria. Aku bertemu dengan seorang malaikat. Aku tahu.” Ketakutan dan penderitaannya hilang dari wajahnya seketika itu.
Ketika kami akan meninggalkan rumah, ibu Maria berlari ke arah kami. “Tunggu,” katanya. Ia pasti sudah mendengar pembicaraan kami dari balik pintu. Air matanya mengalir di pipinya.

“Aku akan memanggil ayahmu,” katanya sambil penuh perasaan dan emosi. “Kita,” ia menangis. “Kita..,” ia berteriak ketika ia akan lari untuk memanggil suaminya. “Kita… akan mengadakan pernikahan!”

Itu yang terjadi, bu. Terima kasih untuk selalu ada buat kami. Aku akan mengirim surat lagi nanti.

Love,
Yusuf

10.12.08

Dia sudah tidak mengingatnya

Alkisah ada sebuah legenda mengenai seorang pendeta di sebuah paroki kecil di daerah Midwestern yang sebagai seorang muda telah melakukan apa yang menurutnya adalah sebuah dosa yang amat besar. Sekalipun ia telah meminta pengampunan Tuhan, sepanjang hidupnya ia menanggung beban dari dosanya itu. Sekalipun ia telah menjadi seorang pendeta, ia tetap tak dapat dengan tuntas meyakini bahwa Tuhan telah mengampuninya.

Tetapi ia mendengar mengenai seorang wanita tua di jemaatnya yang kadangkala mendapatkan penglihatan. Di saat mendapat penglihatan tersebut, sang wanita seringkali saling berkata-kata dengan Tuhan.

Suatu hari sang pendeta berhasil mendapat cukup keberanian untuk mengunjungi wanita tersebut. Sang wanita mempersilahkannya masuk dan menyuguhkan secangkir teh. Pada akhir kunjungannya, si pendeta menaruh cangkirnya di atas meja dan memandang pada sang wanita.

"Benarkah kadang kala ibu mendapat penglihatan?" tanyanya.
"Ya", ia menjawab.
"Apakah juga benar, bahwa saat penglihatan tersebut, ibu seringkali berkata-kata dengan Tuhan?"
"Ya", jawabnya.
"Mmm... jika anda mendapatkan penglihatan lagi dan berkata-kata dengan Tuhan, maukah ibu tanyakan satu pertanyaan bagi saya?".

Sang wanita memandang sedikit heran pada si pendeta. Belum pernah ia mendapat permintaan seperti itu.
"Ya, dengan senang hati," jawabnya.
"Apa yang bapak ingin saya tanyakan?"
"Mmm.." sang pendeta memulai, "tolong tanyakan pada Tuhan, dosa apakah yang pernah dilakukan pendetanya ini di masa mudanya."

Sang wanita, benar-benar heran sekarang, segera saja setuju.

Beberapa minggupun berlalu, dan sang pendeta sekali lagi mengunjungi wanita itu. Setelah menikmati secangkir teh, dengan hati-hati dan malu-malu ia bertanya, "Sudahkah ibu mendapatkan penglihatan baru-baru ini?"

"Oh ya, saya mendapatkannya", jawab sang wanita.
"Apakah anda saling berkata-kata dengan Tuhan?"
"Ya."
"Apakah ibu bertanya kepada Tuhan dosa apakah yang pernah saya lakukan di masa muda saya?"
"Ya," sang wanita menjawab, "saya menanyakannya."

Sang pendeta, gelisah dan takut, ragu-ragu sejenak dan kemudian bertanya, "Lalu, apa yang Tuhan katakan?"

Sang wanita mengangkat wajahnya dan memandang si pendeta dan kemudian menjawab dnegan lembut, "Tuhan mengatakan Ia tidak dapat lagi mengingatnya."

9.12.08

sekarang aku tahu

Dave selalu menganggap kekristenan adalah sesuatu yang bodoh. Ia tidak mengerti mengapa Allah menjadi manusia dan mati disalib untuk menebus dosa. Ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Memang dia adalah pria yang baik hati, tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tapi Dave sungguh-sungguh tidak dapat percaya.
"Aku benar-benar minta maaf kalau membuatmu sedih," katanya pada istrinya yang rajin ke gereja, "tapi aku tidak dapat mengerti kenapa Tuhan mau jadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal."

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Dave menolak untuk ikut, "aku tidak mau munafik," jawabnya. "Aku lebih baik tinggal di rumah dan akan menunggumu sampai pulang."

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Dave melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Ketika ia melihat ke arah pohon di depan rumahnya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka terjebak dalam badai salju, dan hampir mati kedinginan.

"Aku tidak bisa membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, kasihan," pikir Dave. "Tapi bagaimana aku bisa menolong mereka?" Lali ia berusaha membuka jendela rumahnya dan memancing burung itu dengan remah-remah roti. Makanan pasti bisa menuntun mereka masuk, pikirnya.

Tapi Dave sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah-remah itu dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju. Dave berteriak, bersiul dan mencoba menggiring mereka masuk, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi rumahnya yang hangat.

"Mereka menganggapku sebagai makhluk aneh yang menakutkan," kata Dave pada dirinya sendiri, "dan aku tidak bisa memikirkan cara lain untuk memberitahu kalau mereka bisa mempercayaiku. Kalau saja aku bisa jadi seekor burung selama beberapa menit saja, mungkin aku bisa membawa mereka pada tempat yang aman." Saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Dave berdiri tertegun selama beberapa detik, kemudian ia terjatuh pada lututnya. Dengan terisak ia berkata, "Sekarang aku tahu, sekarang aku tahu kenapa Kau mau jadi manusia."

8.12.08

rudolph

Suatu malam di bulan Desember di Chicago, seorang gadis kecil berusia 4 tahun naik ke tempat tidur ayahnya dan bertanya, “Papa, kenapa mama tidak seperti mama yang lainnya?” Bob melihat sekilas ke arah sofa dimana terbaring lemah Evelyn, istrinya yang masih muda, akibat kanker selama 2 tahun. Hampir semua penghasilan dan tabungan ia gunakan untuk pengobatan Evelyn.

Ketika jarinya membelai rambut Barbara, ia berdoa supaya bisa menjawab pertanyaan putrinya. Di apartemennya yang lusuh, ia merangkul putrinya dan membacakan sebuah cerita, “Alkisah ada seekor rusa bernama Rudolph, satu-satunya rusa di dunia yang memiliki hidung besar berwarna merah. Rudolph sangat malu dengan hidungnya yang unik. Rusa yang lain sering menertawakannya; keluarganya pun malu. Di malam Natal, Santa Claus bersama tim rusanya bersiap untuk perjalanan setahun sekali keliling dunia. Seluruh komunitas rusa berkumpul untuk menyemangati pahlawan besar mereka sebelum berangkat. Tapi malam itu kabut tebal menyelimuti bumi dan Santa tahu bahwa ia tidak mungkin bisa melihat cerobong asap karena kabut yang tebal itu. Tiba-tiba Rudolph muncul, hidungnya yang merah bersinar lebih terang dari sebelumnya. Santa pikir Rudolph bisa menolongnya. Ia mengikatkan tali pelana pada Rudolph di barisan rusa paling depan. Mereka berangkat! Rudolph memimpin Santa ke setiap cerobong dengan selamat malam itu. Hujan, salju, kabut, tidak ada yang menghalanginya karena hidungnya yang bersinar itu. Dan akhirnya Rudolph menjadi rusa yang paling terkenal dan yang paling disayangi. Hidungnya yang pada awalnya membuat dirinya malu sekarang menjadi hal yang paling diingini di antara semua rusa. Santa Claus memberitahu semua orang bahwa Rudolphlah yang menjadi penolong pada malam itu, dan sejak Natal itu, Rudolph hidup dengan tenang dan gembira.”

Setelah hari itu, Bob membuat cerita itu menjadi sebuah puisi “Malam Sebelum Natal” dan membuatnya dalam bentuk buku dengan gambar sebagai ilustrasi sebagai hadiah khusus untuk Barbara. Bob berusaha keras membuat buku itu sebaik mungkin. Ia ingin putrinya mendapatkan hadiah yang layak, karena ia sudah tidak mampu lagi membeli kado yang lain.
Sebuah tragedi terjadi ketika Evelyn May meninggal dunia. Harapan Bob hancur, satu-satunya kekuatannya hanya Barbara. Dalam dukanya ia tetap meneruskan cerita “Rudolph” dengan tangisan di matanya.

Singkat cerita, tak lama setelah Barbara menangis kegirangan karena hadiah yang dibuat oleh Bob dengan tangannya sendiri pada Natal pagi, Bob diminta untuk datang ke pesta liburan karyawan di Montgomery Wards. Sebenarnya Bob tidak mau datang, tetapi akhirnya ia datang juga sambil membawa puisinya dan membacanya di tengah-tengah keramaian. Awalnya yang terdengar hanyalah suara canda tawa tapi kemudian suasana menjadi hening, pada akhirnya ruangan dipenuhi dengan tepuk tangan. Itu terjadi pada tahun 1938.

Natal 1947, sebanyak 6 juta kopi buku itu telah terjual, membuat Rudolph menjadi salah satu buku terlaris di dunia. Permintaan akan produk sponsor meningkat drastis dan banyak para pengajar dan sejarahwan memperkirakan Rudolph akan mendapatkan tempat permanen di tradisi Natal.